Urban Scents

bagaimana bau selokan atau roti panggang mengubah mood satu blok kota

Urban Scents
I

Bayangkan kita sedang berjalan di trotoar kota yang padat. Matahari sedang terik-teriknya. Kendaraan merayap pelan. Tiba-tiba, angin berhembus membawa aroma pesing dan bau busuk dari tumpukan sampah dan selokan yang menggenang. Apa yang kita lakukan? Kita pasti langsung menahan napas dan mempercepat langkah. Wajah kita mengernyit. Mood yang tadinya biasa saja, mendadak anjlok. Bawaannya ingin marah pada siapa saja yang menabrak bahu kita.

Tapi, coba kita terus berjalan sekitar lima puluh meter lagi. Perlahan udara berubah. Tiba-tiba ada aroma mentega leleh, kopi yang baru diseduh, dan roti panggang karamel dari sebuah toko di pojok jalan. Seketika, langkah kaki kita melambat. Bahu yang tadinya tegang jadi rileks. Kita bahkan mungkin tersenyum kecil tanpa alasan yang jelas. Marah kita menguap begitu saja.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar mengendalikan emosi kita sendiri? Atau jangan-jangan, suasana hati dan keramahan satu blok kota ini diam-diam sedang disetir oleh sesuatu yang sama sekali tidak terlihat?

II

Untuk memahami misteri ini, kita harus membedah apa yang terjadi di dalam kepala kita. Secara biologis, indra penciuman kita itu ibarat jalur VIP di otak. Ketika kita mencium sesuatu, molekul bau masuk ke hidung dan langsung menyapa olfactory bulb. Ini adalah stasiun pengolahan bau di otak kita.

Menariknya, jalur penciuman ini punya akses langsung tanpa hambatan ke amygdala (pusat pengatur emosi) dan hippocampus (pusat penyimpanan memori). Indera lain seperti penglihatan atau pendengaran harus melewati "meja resepsionis" otak bernama talamus terlebih dahulu. Tapi bau? Dia punya kunci master untuk langsung membajak emosi kita.

Sejarah mencatat betapa kuatnya pengaruh bau ini bagi arah peradaban manusia. Di abad ke-19, warga London dan Paris sangat ketakutan pada bau busuk. Mereka percaya pada miasma theory, sebuah gagasan medis masa itu bahwa penyakit mematikan seperti kolera menular langsung lewat udara kotor yang berbau tak sedap. Bau bukan cuma dianggap menjijikkan, tapi mematikan. Ketakutan massal inilah yang akhirnya memaksa pemerintah kota membangun sistem gorong-gorong modern. Artinya, tata kota yang bersih dan sehat hari ini sebenarnya dibangun di atas kepanikan manusia terhadap bau selokan.

III

Oke, kita sekarang paham bahwa bau bisa memicu reaksi di otak dan mengubah sejarah kota. Tapi, mari kita tarik ini ke skala psikologi sosial. Pernahkah teman-teman berpikir, apa yang terjadi jika ratusan orang mencium aroma yang sama di trotoar yang sama?

Bayangkan sebuah jalan raya yang ramai. Di satu sudut jalan aromanya pengap dan busuk. Di sudut lain wanginya manis dan menenangkan. Apakah bau-bau ini sekadar numpang lewat di hidung kita? Atau mereka diam-diam sedang menulis ulang naskah interaksi sosial orang-orang di jalan tersebut?

Apakah mungkin aroma sebuah jalan bisa menentukan seberapa besar peluang seseorang berbuat kasar hari itu? Atau sebaliknya, bisakah wangi kue yang sedang dipanggang membuat dompet pejalan kaki lebih gampang terbuka untuk menolong orang lain?

IV

Jawabannya ternyata sangat mengejutkan. Ya, wewangian kota atau urban scents benar-benar bisa mengubah moralitas dan perilaku sosial warga kota.

Para peneliti psikologi menemukan fenomena yang luar biasa. Dalam sebuah eksperimen yang mempelajari perilaku prososial, orang-orang terbukti jauh lebih bersedia membantu orang asing (misalnya membantu mengambilkan barang yang jatuh atau menukarkan uang receh) ketika mereka berada di dekat toko roti yang wangi. Saat eksperimen yang sama dilakukan di depan toko baju yang tidak memiliki aroma khusus, tingkat kepedulian itu menurun drastis. Wangi roti panggang itu memicu positive affect atau emosi positif yang membuat kita mendadak jadi manusia yang lebih baik dan lebih murah hati.

Sebaliknya, paparan bau busuk dalam waktu lama terbukti meningkatkan hormon kortisol atau hormon stres. Dalam tata ruang kota, lingkungan dengan bau tak sedap yang dibiarkan persisten seringkali berkorelasi dengan tingkat frustrasi yang tinggi. Orang cenderung lebih agresif dan kurang berempati.

Kini, para ilmuwan dan perancang kota modern mulai mempelajari smellscapes atau lanskap aroma. Mereka sadar bahwa menanam pohon bukan cuma soal estetika atau peneduh jalan. Pohon-pohon tertentu mengeluarkan phytoncides, senyawa kimia alami yang terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tekanan darah dan meredakan stres warga kota yang menghirupnya. Kota bukan lagi sekadar susunan aspal dan beton yang menjulang, melainkan sebuah arsitektur tak kasat mata yang kita hirup setiap detiknya.

V

Pada akhirnya, hal ini menyadarkan kita pada satu kenyataan yang sangat manusiawi. Kita sering merasa bangga sebagai makhluk rasional yang memegang kendali penuh atas keputusan dan perasaan kita tiap hari. Padahal, kita sangat rentan.

Sistem saraf dan suasana hati kita bisa dengan mudah dirampok oleh bau tumpukan sampah yang telat diangkut, tapi di saat yang sama, bisa diselamatkan kembali oleh harumnya kopi dari kedai di ujung jalan. Kita tidak sekuat yang kita kira, dan justru di situlah letak keindahannya.

Jadi, besok pagi ketika teman-teman melangkah keluar rumah, menyusuri trotoar menuju kampus atau tempat kerja, cobalah ambil napas dalam-dalam. Sadari aroma apa yang sedang menyelimuti udara di sekitar kita. Mungkin itu wangi tanah yang basah terkena hujan, atau aroma bumbu nasi goreng dari gerobak pinggir jalan. Apapun itu, sadarilah bahwa di tengah kota yang bising, keras, dan individualis ini, kita semua diam-diam dihubungkan oleh udara yang sama.

Dan kadang, sekilas aroma roti panggang yang hangat sudah cukup untuk menyelamatkan kewarasan kita bersama.